Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy edisi No. 77 Th VII Dzulqaidah 1430 H / Nopember 2009 Hal. 44-47

Khotbah Habib Umar bin Hafidz

Segala madah bagi Allah SWT, penghimpun manusia di hari kiamat yang telah dipastikan. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT, satu-satunya, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang bakal meletakkan seluruh manusia di hadapan-Nya, guna diberi pahala atau siksa. Ketika itu, beruntunglah manusia-manusia beriman yang pandai memanfaatkan waktu hidupnya dengan menghadiri majelis kebajikan, ketaatan dan zikir, dan menyesallah mereka yang telah menghabiskan umurnya untuk berbuat maksiat. Aku bersaksi bahwa sang panutan, Nabi Muhammad SAW adalah rasul yang diutus oleh-Nya untuk menabur hidayah di muka bumi. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam kepada Baginda Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang patuh kepada beliau hingga hari akhir nanti.

Wahai hamba Allah
Dalam majelis ini, aku berwasiat kepada kalian samua, sekaligus kepada diri sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Ketahuilah, barangsiapa bertakwa kepada Allah SWT, ia akan hidup penuh kekuatan dan berjalan di bumi-Nya dengan rasa aman dan tentram

Wahai hamba Allah
Ada dua perkara yang menyebabkan umat Rasulullah SAW ini kerap kali dilanda musibah dan bencana, dan sayang sekali, mereka tidak menyadari, atau bahkan tidak mempedulikanya sama sekali, sekalipun beliau SAW dan para ulama telah sering mengingatkan.

Dua perkara itu adalah, pertama, tiadanya penghargaan akan waktu, kesempatan dan umur yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala. Sekarang ini, umumnya umat telah menyia-nyiakan waktu dan membuangnya untuk hal-hal yang kosong. Sebagian lagi menghabiskan waktu dalam perbuatan makruh, dan, bahkan kemaksiatan. Perbuatan ini setianya memancing amarah Allah SWT. Namun mereka abai serta tak mengindahkan. Maka tidaklah mengherankan apabila bencana demi bencana mulai merebak di negeri muslimin.

Kedua, pergaulan dan persaudaraan yang tidak lagi dilandasi itikad baik. Ketika umur dan waktu terbengkalai, ketika perkawanan tidak lagi dilandasi niat baik, maka kerusakan merajalela, fitnah dan cobaan bakal mendera umat, tak peduli di desa maupun di kota. Baginda Nabi SAW, dalam sabda-sabdanya, telah banyak mengingatkan umat agar memanfaatkan waktu dengan maksimal dan mendasari pergaulannya dengan niat soleh. Semua itu demi kebaikan umat sendiri. Akan tetapi sayang, orang-orang sudah tutup telinga dan mata. Mereka tak lagi berminat mendengarkan seruan beliau SAW.

Sadarlah wahai muslimin. Waktu adalah esensi kehidupanmu. Umur adalah peluang yang diberikan kepadamu. Berharga atau tidaknya hidupmu bergantung pada bagaimana kau memanfaatkan usiamu itu.

Rasulullah SAW bersabda, Di hari pembalasan nanti, dua telapak kaki seorang hamba akan tertahan dijembatan sirat. Takkan beranjak sampai ia ditanya mengenai empat hal. untuk apakah seluruh umur hidupnya? Dikemanakan usia mudanya? Dari mana ia mendapatkan harta dan digunakan untuk apakah harta itu? Sudahkah ilmunya diamalkan?

Wahai hamba Allah
Kita wajib kembali ke jalur yang telah digariskan Rasulullah SAW. Beliau adalah insan yang selalu berkata jujur. Beliau adalah sang petunjuk, penyeru kebenaran, suluh umat, dan pemberi kabar-kabar dari Ilahi. Beliau sangat cinta kepada umatnya. Kasih beliau kepada kita lebih besar dari kasih orang tua kita sendiri kepada kita. Allah SWT berfirman,

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”

Kembali ke dua hal di atas. Beliau SAW pernah mengabarkan, “Di dalam surga, para penghuninya masih merasakan suatu kerugian besar, yakni mengenai waktu yang telah berlalu—di kehidupan dunia—yang tidak mereka gunakan untuk berzikir kepada Allah SWT.”

Beliau juga mewanti-wanti, “Ketika suatu kaum duduk bersama-sama, akan tetapi tidak mengingat Allah SWT sama sekali, maka mereka bakal merasakan penyesalan di hari kiamat nanti.”

Pergunakanlah waktu dengan aktifitas yang baik. Ikatlah persaudaraan dengan asas yang bagus serta tujuan yang penuh manfaat. “Ketika seseorang menjalin kawan, meskipun sejenak di siang hari, kelak ia akan ditanya mengenai perkawanan itu: telahkan ia melaksanakan hak-hak Allah SWT atau mengalpakannya?” begitulah yang dinarasikan Rasulullah SAW.

Wahai hamba Allah
Kita sudah sering membuang-buang waktu. Di antara kita bahkan ada yang lebih banyak mengisi waktu untuk maksiat. Marilah kita renung-kan bersama. Ke manakah malam-malam kita? Untuk apakah umur-umur kita? Apa yang kita kerjakan antara Maghrib dan Isyak? Bagaimana kabar majelis muslimin, pasar-pasar dan warung-warung? Tempat-tempat itu telah menjadi ajang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ingatlah, bagaimana Baginda Rasul senantiasa zikir kepada Allah di setiap waktunya. Dulu, kaum muslimin tak pernah lalai untuk berzikir, di mana saja, siang dan malam. Akan tetapi kini, umat Islam, baik yang muda maupun yang tua, sudah menganggap remeh zikir. Mereka malas mengingat Allah dan lebih suka membicarakan yang lain. Ketika di dalam masjid sekalipun, mereka menganggap membaca Al-Quran tidak lebih asyik daripada bicara omong kosong. Hingga kita kerap menyaksikan mereka bicara tak tentu arah di dalam rumah Allah. Bahkan tak segan mereka meletakkan Al-Quran yang tengah dibaca hanya demi bisa mengobrol bersama rekan-rekan mereka. Sungguh, Betapa genting keadaan muslimin.

Tak hanya itu, umat Islam sekarang cenderung menjauhi majelis taklim. Ketika majelis pengajian diadakan di suatu desa, pesertanya selalu tak banyak. Orang-orang enggan datang dan lebih memilih kumpulan-kumpulan yang kurang baik. Mereka adalah manusia yang rugi. Mereka bakal menyesal. Keberadaan mereka sudah dinubuatkan Rasulullah SAW, “Manusia yang paling besar penyesalannya di akhirat kelak adalah mereka yang punya kesempatan untuk mengaji akan tetapi mereka sia-siakan kesempatan itu.”

Masa keemasan telah berlalu, yakni masa sahabat, tabiin, dan tabiin-tabiin. Masa ketika zikir, baca Al-Quran dan hadis menjadi kebiasaan, baik ketika makan, minum, tidur, dan segala rutinitas.

Wahai hamba Allah
Ketahuilah, suatu majelis yang dilandasi niatan baik dan tujuan yang mulia, yakni ridha Allah dan Rasulullah, akan membuahkan kebajikan-kebajikan. Di antaranya menangguhkan musibah, meredam permusuhan, dan mencegah perbuatan munkar, Semua itu lantaran sikap saling membantu di antara anggota. Dan mereka semua pasti memperoleh pahala-pahala dan anugerah yang tak kecil nilainya dari Allah SWT. Sebab itulah Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan perhatian yang agung kepada majelis zikir dan majelis tak-lim.

Ya Allah, bimbinglah kami kepada kebaikan. Tambahkanlah rahmat-Mu untuk kami. Siramkan anugerah-anugerah-Mu kepada kami. Elokkanlah dhahir dan bathin kami, serta niat dan tujuan kami. Sirnakan kesulitan dari kaum muslimin. Dengan kasih-Mu, wahai Yang Maha Kasih Sayang.

nikah_web

Keluarga sakinah dibawah ridha Allah SWT merupakan dambaan setiap insan. Untuk mencapainya seorang muslim perlu mengetahui dan memahami permasalahan yang berkaitan dengan nikah dan cara mengatasi permasalahan dalam hidup berumah tangga berdasarkan tuntunan syari’at Islam.

Buku ini menulis secara rinci dan mendalam berdasarkan Madzham Syafi’i yang diambil dari sumber kitab-kitab mu’tabaroh dan penjelasan Al Alim Al’allamah Al Faqih Al Habib Zein bin Ibrahim bin Smith (Madinah Al Munawwaroh) dengan bahasa yang sederhana dan lugas disertai contoh-contoh sehingga sangat mudah untuk dimengerti oleh segenap lapisan masyarakat.

 

Harga Rp. 34.000,-

 

Untuk pemesanan hubungi: Syarif Hidayat

buku_haid

Masalah haid merupakan persoalan yang sangat mendasar bagi kaum wanita, karena hal tersebut termasuk ajaran yang sangat penting dalam ajaran agama Islam karena menyangkut kesucian jiwa dan jasmani juga menyangkut masalah sah atau tidaknya ibadah kaum wanita.

 

Dengan kata-kata yang sederhana buku ini menyajikan secara rinci dan praktis serta dilengkapi dengan table-tabel yang insya Allah sangat memudahkan proses pemahaman tentang haid ini.

 

Untuk pemesanan hubungi: Syarif Hidayat

Melalui buku ini Hb. Husein ingin membagi kumpulan renungan, motivasi dan inspirasi agar pembaca dapat mengambil hikmah dan suri tauladannya sehingga sebagai makhlukNYA dapat mencapai kebahagian baik itu di dunia atau di akhirat kelak.

 

 

Untuk pemesanan hubungi: Syarif Hidayat

bahagia_dak

Sumber: AlHawi.Net

 

AlhamduliLLah, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Menyaksikan segalanya, Maha Pengawas Yang Selalu hadir tanpa pernah absen, Maha Pendamping Yang tiada pernah berpisah dalam pemukiman maupunbepergian, Yang selalu mendorong kaum cerdik cendekiawan untuk mengamati ciptaan-Nya di alam malakut-Nya, di langit dan bumi-Nya yang sarat dengan tanda-tanda kebesaran ayat-ayat-Nya, yang mengandung pengertian dan pelajaran.

 

Salawat dan salam bagi junjungan kita Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga beliau yang mulia dan terhormat, sebanyak bilangan  gumpalan awan dan curahan hujan dan sebanyak bilangan hembusan angin yang menggerakkan pepohohan.

 

Ammâ ba’du: Saya berpesan, terutama kepada diri saya sendiri dan kepada anda sekalian para sahabatku tercinta semoga kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Yang Maha Penguasa atas seluruh penguasa, Penyebab dari semua sebab, Yang Tiada Tuhan yang patut disembah selain Dia, dan tiada suatu tujuan hakiki kecuali kepada-Nya.

 

Sesungguhnya, orang yang berbahagia itu ialah yang selalu bersandar diri kepada-Nya, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, meletakkan dirinya di dalam kuasa dan kekuatan-Nya, berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada qudrat dan iradat-Nya. Bersungguh-sungguh meletakkan harapan dan keinginan kepada apa yang ada di sisi-Nya.

 

Adapun orang yang sengsara dan terjauhkan dari segala keberuntungan adalah yang berpaling dari Allah, tiada ingat kepada-Nya, bahkan selalu mengikuti bisikan hawa nafsunya dan mengutamakan dunianya di atas akhiratnya.

 

Maka pesan saya pertama-tama, hendaklah anda sekalian selalu bertawakal kepada Allah dan percaya sepenuhnya kepada jaminan-Nya, seraya merasa tenteram dalam naungan-Nya, selalu mohon pertolongan-Nya dalam segala urusan, bersandar kepada-Nya dalam segala hal, serta meletakkan harapan dan keperluan dalam lingkup kemurahan dan kurnia-Nya semata-mata.

 

Dan hendaklah anda sekalian memeutuskan segala harapan dan keinginan dari apa saja berada di tangan orang-orang lain, tidak menunjukkan sedikit pun ketamakan untuk memperoleh apa pun pemberian dari mereka. Namun, sekiranya ada seseorang memberikan hadiah secara ikhlas, terimalah oleh kalian pemberian itu dengan penuh rasa terima kasih kepadanya dan berdoalah untuknya. Nikmatilah seperlunya atau sedekahkanlah kepada orang lain sekiranya tidak kalian perlukan. Meskipun demikian, sekiranya ada keraguan tentang kebaikan sumber perolehan sesuatu yang di hadiahkan kepada kalian, tolaklah dengan cara yang santun.

 

 

Mementingkan solat & Zikir

 

Hendaklah anda sekalian senantiasa bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kelima shalat fardhu seraya memenuhi segala persyaratannya. Shalat adalah tiang agama dan diumpamakan bagai kepala dalam susunan anggota tubuh.

 

Adapun sebaik-baik cara pemeliharaannya adalah dengan mengerjakannya pada awal waktu dan sedapat mungkin dalam berjemaah. Sedangkan yang paling utama dan menentukan diterimanya solat itu ialah dengan menghadirkan hati di dalamnya di sertai dengan penuh kekhusyu’an. Alangkah buruknya bagi seseorang yang sedang bersolat, apabila anggota-anggota tubuhnya tengah bermunajat dengan Tuhannya, sedangkan hatinya berkelana kesana sini memikirkan ehwal dunianya.

 

Tetap membaca zikir Ketika dalam Perjalanan Jauh

 

Allah Swt. dengan kemurahan-Nya juga telah mneyediakan keringinan bagi hamba-hamba-Nya dalam melaksanakan solat, iaitu solat qasar dan jama’ (yang dibolehkan ketika sedang dalam perjalanan jauh). Maka manfaatkanlah kemudahan seperti itu (sesuai dengan persyaratan dan) pada tempatnya masing-masing kerana Allah Swt. amat suka kemudahan-Nya dinikmati, sebagaimana juga kewajipan-kewajipan-Nya di penuhi. Walaupun demikian, hendaklah kalian tetap melaksanakan semua zikir yang biasa kalian laksanakan setiap hari, sebagaimana yang kalian lakukan di saat sedang tidak bepergian. Oleh sebab itu, hendaklah kalian secara konsisten dan tekun senantiasa memelihara bacaan-bacaan Al-Quran dan pelbagai wirid yang biasa kalian lakukan dalam keseharian kalian. Jangan sekali-kali meninggalkannya. Kalaupun tidak dapat dilaksanakan secara sempurna akibat kesibukan dalam perjalanan, gantikanlah pada kesempatan lain, jika itu termasuk amalan yang dapat diganti (di-qadha’). Atau jika tidak termasuk amalan yang dapat di-qahda’ maka yang demikina itu termasuk dalam keringanan yang diberikan Allah Swt bagi orang musafir, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.:” Apabila seseorang Mukmin dalam keadaan bepergian, atau sedang sakit, maka Allah Swt. memerintahkan kepada malaikat-Nya agar mencatat baginya segala amalnya seperti ketika diamalkannya pada saat-saat ia bermukim dan dalam keadaan sihat wal-afiat”. Ini tentunya merupakan anugerah Allah serta rahmat dan kemudahan-Nya.

 

Alhamdulillah. Puji syukur ke hadirat-Nya, betapa besar rahmat dan kesayangan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya!

 

Kesucian Lahir Batin

 

Dan hendaklah kalian – disamping memeperbanyakkan zikir kepada Allah Swt pada setiap saat- demikian juga, yang tidak kalah pentingnya, ialah menjaga kesucian batin,d alam erti kebersihan hati dari buruk sangka, dendam dan dengki terhadap sesama muslim atau melakukan penipuan terhadap mereka. Demikian juga hendaklah kalian selalu memperhatikan kesucian lahiriah di setiap saat. Yakni mensucikan diri dari hadas dan najis. Tentang ini, Allah Swt telah mewahyukan kepada Nabi Musa (a.s): “Apabila sesuatu musibah menimpa dirimu, pada saat tubuhmu tidak sedang dalam keadaan suci, maka janganlah menyalahkan selain dirimu sendiri”.

 

Lakukanlah zikir-zikir secara rutin pada waktu pagi dan sore, kerana zikir adalah benteng dari gangguan syaitan dan penangkal dari berbagai keburukan. Dalam kitab Al-Adzhâr  (karya An-Nawawi.-Peny) cukup banyak teks zikir yang di anjurkan, terutama ketika sedang dalam perjalanan jauh, ketika naik dan turun dari kenderaan dan juga pada saat memasuki kota tempat tujuan dan lain-lain sebagainya. Usahakanlah agar mendapatkan kitab tersebut, lalu hafalkanlah bacaan-bacaan yang tertera didalamnya, dan selanjutnya kerjakanlah dengan tekun.

 

Menghias Diri Dengan Akhlak Yang Baik

 

Hendaklah anda sekalian selalu mengutamakan kebersihan hati, kedermawanan dan kasih sayang kepada setiap muslim, serta sikap bersahabat dan ramah tamah kepada siapa saja yang bersahabat dengan kalian. Berupayalah agar kalian selalu membantu setiap muslim dalam memenuhi kebutuhannya, sama seperti mencukupi keperluan diri kalian sendiri. Tanamkanlah dalam diri kalian, kepedulian dan rasa keinginan untuk selalu menyenangkan hatinya. Jangan pula merasa malu atau segam memberikan nasihat dan bimbingan, demi kebaikan akhiratnya. Sebab, perasaan malu untuk melakukan hal seperti itu, sebetulnya bukan malu, melainkan sifat pengecut yang oleh setan dinamakan malu, semata-mata untuk menyenangkan hati orang-orang yang lemah imannya.

 

Senantiasa Berakhlak Mulia

 

Dengan siapa saja kalian bersahabat, utamakanlah budi pekerti yang baik dan sikap lemah lembut kerana semua keluhuran akhlak itu bertumpu pada kelembutan budi dan sikap lapang dada serta mengutamakan kepentingan para sahabat. Dan hendaklah seorang mukmin itu berwatak cepat ridhanya dan lambat amarahnya. Bahkan ciri khas dari sifat utama seorang Mukmin Kâmil (mukmin yang sempurna) ialah tidak akan mudah marah kerana sesuatu yang bekenaan langsung dengan diri peribadinya, melainkan semata-mata kerana sesuatu yang menyangkut pelanggaran terhadap hak tuhannya. Kalaupun seorang mukmin marah kerana sesuatu yang berkenaan dengnan hak peribadinya, maka keimanan yang bersemayam di dalam hatinya akan segera meredam kemerahannya itu. Seorang laki-laki pernah berkata kepada Nabi Saw.: “Ya Rasullallah! Berilah aku nasihat!” Maka beliau pun bersabda : “Jangan marah!” (Ucapan itu beliau ulang-ulang sampau beberapa kali).

 

Dan hendaklah anda sekalian selalu bersikap tawâdhu iaitu dengan memandang kepada sesama kaum Mukminin dengan pandangan pengnagungan dan penghormatan dan kepada diri sendiri dengan perasaan rendah hati.

 

Demikian pula hendaknya kalian selalu bersikap tulus ikhlas iaitu dengan senantiasa mengharapkan keredhaan Allah an pahala-Nya semata-mata, pada setiap kali melakukan suatu kebaikan ataupun meninggalkan suatu keburukan sebab barang siapa melakukan suatu perintah Allah Swt. akan tetapi dalam hatinya ingin mendapatkan kedudukan di sisi manusia atau mencar-cari pujian atau menginginkan harta kekayaan mereka, maka ia sudah termasuk kelompok orang yang berbuat riya”. Sedangkan sifat riya’ dalam beramal akan membatalkan amal itu sendiri serta melenyapkan pahalanya.

 

Memilih Sahabat Yang Berakhlak Baik

 

            Upayakanlah agar kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia, agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus menggali keuntungan dari perbuatan dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan menziarahi mereka yang sudah tiada, dengan penuh keikhlasan, penghormatan dan penghargaan. Agar dengan demikian diperoleh manfaatnya dan rasa limpahan keberkahan Allah kepada kalian dengan perantaraan mereka itu. Pada zaman ini, memang sedikit sekali manfaat yang dapat diperoleh dari orang-orang saleh, kerana kurangnya penghormatan dan lemahnya husnuzzhan (persangkaan yang baik) terhadap mereka.

Itulah sebabnya kebanyakan orang di zaman sekarang tidak memperoleh keberkahan dari orang-orang soleh itu, an tidak bisa menyaksikan pelbagai peristiwa menakjubkan yang berasal dari kedudukan mereka yang telah beroleh karâmah (penghormatan dan pemuliaan) dari Allah Swt. Sedemikian rupa, sehingga mereka mengira bahawa pada zaman ini sudah tidak ada lagi orang-orang yang disebut sebagai ‘wali’.Dugaan yang demikian itu tidak benar sama sekali, Alhamdullillah, para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi. Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu, kecuali orang-orang yang telah mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Allah dalam hatinya dan mereka yang selalu berhusnuz-zhan terhadap mereka.

 

Menjauhkan Diri Dari Orang-Orang Yang Berperilaku Buruk

 

                Hindarilah orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah pergaulan dengan mereka kerana dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya kerugian dan malapetaka yang akan kalian alami, di dunia maupun di akhirat. Pergaulan seperti itulah yang membengokkan sesuatu yang sudah lurus dan yang lebih parah lagi mengakibatkan rosaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair : Yang berkudis takkan menjadi sihat kembali akibat bergaul  berdekatan dengan yang sihat, namun yang sihat mudah ketularan penyakit akibat bergaul berdekatan dengan yang berkudis.

 

Memelihara Hati Dan Lidah

 

Peliharalah hati kalian masing-masing dati niatan atau bisikan-bisikan hati yang tercela dan bersihkanlah dari noda-noda akhlak yang buruk dan berupayalah mencegah keterlibatan setiap anggota tubuh kalian dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa. Lebih-lebih lagi dalam menjaga dan memeilahara lidah dari pembicaraan-pembicaraan yang terlarang atau yang sia-sia; terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa pengunjingan (ghibah) sehingga dinyatakan bahawa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.

 

Jangan sekali-kali berkata bohong. Sebab kebohongan sangat bertentangan dengan keimanan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis nabi Saw.: “Barangsiapa ingin mengutuk dirinya sendiri, silakan ia berkata bohong”.

 

Sungguh, bahaya yang ditimbulkan oleh lidah itu amat besar sekali, demikian pula cara mengendalikannya tidaklah mudah. Maka, barangsiapa mendapatkan taufik (pengarahan dan pemudahan dari Allah Swt.) untuk bisa memelihara lidahnya, sungguh ia telah meraih bagian keberuntungan yang amat besar!.

 

Membaca Al-Quran Secara Rutin

 

Hendaklah kalian membiasakan diri dengan sering-sering membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyu’an dan kehadiran hati, di samping menekuni ertinya (tadabbur) dan mengikuti kaedah-kaedah bacaannya (tartîl).  Perbanyakkanlah pula – secara khusus-bacaan Surah Yassin, demi memperoleh berbagai kebaikan dan menangkal berbagai keburukan.

 

Menghindari Kekenyangan

 

Jangan sekali-kali memenuhi perut kalian dengan makanan berlebihan. Kekenyangan mengakibatkan kekerasan hati serta kemalasan dalam beribadat, di samping menghalangi hati dari penyiksaan cahaya-cahaya Iiahi dan menjauhkan dari pengaruh positif yang  diharapkan dari amalan ibadat dan zikir.

 

Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umroh

 

            Hendaklah kalian bersungguh-sungguh dalam menetapkan niat untuk menunaikan ibadah haji (segera setelah memiliki kemampuan untuk itu), guna mengunjungi ka’abah, BaituLLâh Al-aHarâm dan melaksanakan manasik haji, mengagungkan syi ‘ar-syi ‘ar-Nya dan menziarahi makam Nabi-Nya: Muhammad Saw. Dan hendaklah kalian dalam hal ini, benar-benar memfokuskan niat dan tujuan dengna tulus ikhlas hanya untuk ibadah semata-mata, tidak untuk tujuan apa pun selain itu. Jangan sekali-kali mencampur adukkan niat-nat mulia ini dengan suatu tujuan yang lain; seperti ingin berniaga atau berwisata.

 

Dan ketika sedang dalam ibadah haji, hendaklah sering-sering melakukan tawaf mengelilingi Ka’abah, rumah Allah. Sebab, orang yang mengerjakan tawaf, bagaikan seorang yang sedang menyelam di dalam samudra rahmat Allah Swt. Maka hendaklah kalian tidak menyia-yiakan saat-saat yang baik itu. Penuhilah hati kalian dengan pengagungan terhadap kebesaran Allah Swt., Sang Pemilik ‘rumah’ yang kini kalian sedang berada di hadapannya. Jangan pula menyibukkan hati kalian dengan apa pun juga, terkecuali dengan tilawat Al-Quran, zikir dan doa-doa lain yang telah dianjurkan. Dna janganlah menyia-yiakan waktu kalian dengan berbagai aktivitas yang tidak bermanfaat. Hendaklah kallian dengan sungguh-sungguh dan konsisten mengerjakan berbagai zikir, bacaan dan doa-doa yang biasa diucapkan secara khusus ditempat-tempat tawaf, sa ‘i dan lain-lain yang bekaitan dengan Ibadah Haji. Selain itu, alangkah baiknya bila kalian juga menaruh perhatian khusus untuk menyaksikan tempat-tempat bersejarah yang memiliki nilai sangat agung.

 

Perbanyak pula Umroh, bila ada kesempatan untuk itu, terutama pada bulan suci Ramadhan. Sebab, satu kali umroh pada bulan Ramadhan, pahalanya sepadan dengan pelaksanaan ibadah haji bersama Rasulallah saw.

 

            Dan hendaklah kalian lebih-lebih menjaga kesopanan yang tinggi selama berada di Tanah Suci (Al-Haramain) dan bersikap ramah tamah dan santun terhadap penduduk setempat. Hargailah kemuliaan yang mereka peroleh kerana bertetangga dengan Rasulallah Saw iaitu dengan cara selalu berbaik sangka terhadap mereka khususnya, dan terhadap kaum Muslimin pada umumnya.

 

            Kalaupun kalian adakalanya menyaksikan atau mendengar di sana, sesuatu yang tidak berkenan di hati, sebaiknya bersikap menahan diri dan bersabar, serta tidak perlu memberikan komentar yang negatif. Akan tetapi jika mampu mengatakan yang benar, ungkapkanlah hal itu. Sebab, ajaran islam tidak membolehkan seseorang mukmin berdiam diri menghadapi suatu yang bathil kecuali dalam keadaan terpaksa, dan meyakini ketidakmampuannya untuk mencegah. Dan alangkah bahagianya orang yang telah mempu memusatkan niat secara bulat dalam pengabdiaannya kepada Allah, tanpa terpengaruh oleh perilaku buruk yang melanda orang-orang di zaman sekarang, yang bertentangan dengan perilaku para salaf saleh. “Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang benar-benar mendapat petunjuk, dan barang siapa yang di sesatkan-Nya, maka tak akan ada baginya seorang pemimpin pun yang memberi petunjuk kepadanya “ (QS.:18:i7)

 

Selain itu, hendaklah kalian tidak menyia-yiakan kesempatan untuk beramal dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya selama berada di Kota Makkah, mengingat bahawa setiap amal kebaikan yang dilakukan disana akan dilipat gandakan pahalanya sampai seratus ribu kali kelipatan. Penggandaan pahala seperti ini sebetulnya disebutkan dalam sebuah hadis Rasullulah Saw. Khusus berkaitan dengan ibadat shalat. Akan tetapi sebagian ulama memahaminya sebagai sesuatu yang bersifat umum, meliputi semua amal kebaikan yang dilandasi niat yang ikhlas dan murni demi meraih keridhaan Allah semata-mata.

 

Namun perlu diingat, baawa sebagaimana amal-amal kebaikan di kota suci Makkah di lipat-gandakan pahalanya oleh Allah, demikian juga sebaliknya perbuatan-perbuatan maksiat di sana pun akan dilipat-gandakan dosa-dosanya. Sedemikian rupa, sampai-sampai sebagian ulama salaf mengatakan; tidak ada suatu tempat di mana ‘niat melakukan maksiat’ saja akan menghadapi tuntutan,s elain kota Makkah. Dalilnya, menurut mereka adalah, firman Allah Swt. dalam Surat Al-Hajj: 25, “Barang siapa bermaksud didalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”.

 

Abdullah Bin Abbas (r.a) pernah berkata : “Bagiku lebih baik melakukan perbuatan dosa sebanyak tujuhpuluh kali di suatu tempat (selain Makkah), daripadanya melakukannya satu kali di Makkah”.

 

Semoga Allah selalu menjaga kota suci itu, menambah keagungan dan kehormatannya serta kebesaran dan kemuliaannya!

 

Diriwayatkan bahawa ketika Rasullullah Saw. Melaksanakan ibadah haji, beliau mengenderai seekor unta berpelana usang, berlapis kain yang harganya tidak mencapai empat dirham. Dan ketika pulang, beliau bersabda, “Ya Allah, jadikanlah ini haji mabrur, tidak tersisip didalamnya perasaaan riya’ atau ingin ketenaran.”

 

Demikian pula Umar bin Khattab r.a., selesai melakukan tawaf di Ka’bah, ia mencium Hajar Aswad lalu menangis, kemudian berkata : “Demi Allah, aku sedar bahawa engkau ini batu, tidak bisa membawa manfaat ataupun mudarat. Kalau saja tidak kerana aku pernah menyaksikan Rasullullah saw. Melakuka seperti ini (yakni mencium Hajar Aswad), niscaya aku tidak akan melakukannya. Kemudian ia menoleh ke belakang dan melihat Ali bin Abi Talib (karramallahu wajhah). Maka Umar pun berkata kepadanya: “Hai Abu’l-Hasan (julukan Ali bin Abi Thalib r.a.), di sinilah tempat mencucurkan air mata.” Tetapi Ali r.a. berkata kepadanya, “Sesungguhnya Hajar-Aswad ini, wahai Amirul-Mukminin, bisa membawa manfaat dan mudarat. Kerana ketika Allah Swt. , mengambil ikrar anak-cucu keturunan Adam s.a. dan berkata kepada mereka, “Bukankah Aku ini tuhan kalian?’, Ia menuliskan suatu tulisan (yang berisi ikrar mereka itu) lalu menyimpannya di dalam batu ini. Maka batu ini pun bersaksi bagi siapa-siapa yang menciumnya (atau menyentuhnya) dengan keyakinan yang benar.”

 

Seorang laki-laki bertemu dengan Abdullah bin Umar r.a. ketika sedang mengerjakan tawaf lalu mengutarakan suatu keperluan kepadanya. Tapi Abdullah tidak menghiraukannya, sampai berjumpa lagi dengannya setelah itu, dan berkata kepadanya: “Saya tahu bahawa anda telah kecewa ketika saya tidak mengindahkan pembicaraan anda saat itu. Tidakkah anda mengetahui bahawa kita ini-pada saat bertawaf-sedang berhadapan dengan Allah Swt?! bagaimana pun juga keperluan anda itu telah terkabulkan!”

Pada suatu ketika, Ali bin Al-Husain r.a. (cucu Rasullullah Saw) melihat Hasan Al-Basri di Masjid’l Haram sedang bercerita dihadapan orang banyak. Ia pun berhenti lalu berkata kepadanya, “Wahai hasan, adakah anda telah rela sepenuhnya dan menyiapkan diri menyongsong kematian?”

“Tidak!” jawab Hasan Al-Basri.

“Lalu, ilmu anda untuk dihisab?”

“Tidak!” jawab Hasan lagi.

“Apakah Allah Swt.memiliki ‘rumah’ yang menjadi tujuan manusia dari berbagai penjuru selain ‘rumah’ ini?” tanya Ali bin Husain lagi.

“Tidak!”

“Kalau begitu, mengapa anda menyibukkan orang-orang dengan mendengarkan cerita-cerita anda itu sehingga mereka terhalang dari melakukan tawaf?”

Mendengar itu,Hasan Al-Basri segera meninggalkan tempat itu dan tidak pernah lagi bercerita selama berada di Kota Makkah.

Thawus berkata, “Aku pernah menyaksikan Ali Zain’l-Abidin Ibn’l-Husain (cucu Rasullullah saw.) di tengah malam, sedang shalat di Al-Hijr (berhadapan dengan Ka’bah). Aku mencuba mendekatinya seraya bergumam dalam hati: “Ini seorang saleh dari keluarga Rasullullah Saw. Moga-moga saya mendengar sesuatu yang bermanfaat dari beliau. Lalu kudengar beliau berdoa dalam sujudnya: “Ya Allah, hamba-Mu yang peminta-minta ini berada di halaman rumah-Mu, hamba-Mu yang miskin di halaman rumah-Mu; hamba-Mu yang fakir di halaman rumah-Mu!’ Sejak itu, tak pernah lagi do’a yang kupanjatkan untuk meminta sesuatu  yang kumulai dengan kalimat-kalimat itu, kecuali pasti terkabul.”

Diriwayatkan bahawa ketika Ali Zain’i-Abidin r.a. memulai ihramnya dan hendak mengucapkan talbiyah (yakni, Labbaik Allahumma Iabbaik, yang berarti: Aku di sini memenuhi panggilan-Mu, ya Allah) tiba-tiba seluruh tubuhnya bergemetaran, dan wajahnya pucat pasi, kemudian ia terjatuh dari kenderaannya dalam keadaan pengsan. Ketika ditanyakan kepadanya setelah itu, “Mengapa demikian?” ia menjawab, “Aku amat khuatir dan takut bila mengucapkan talbiyah, akan dikatakan kepadaku:”Kedatanganmu tak diterima!”

Salim putera Abdullah bin Umar pernah berada di dalam bangunan Ka’bah bersama dengan Hisyam bin Abdul Malik, yang ketika itu menjabat sebagai Amir (walikota Madinah). Kepada Salim, Hisyam bertanya:”Mintalah apa saja keperluanmy dariku!”

“Aku pun merasa malu meminta sesuatu dari siapa pun selain dari Allah SWT., sementara aku berada di-rumah-Nya.”

Kemudian setelah mereka berdua keluar Ka’bah, Hisyam berkata lagi: “Sekarang kita sudah berada diluar Ka’bah. Ajukanlah keperluanmu!”

“Yang anda maksud keperluan duniawi atau ukhrawi?” tanya Salim.

“Aku tidak memiliki sesuatu kecuali dunia.” Jawab Hisyam.

“Aku tidak pernah meminta dunia dari Dia yang menciptakannya; bagaimana mungkin aku memintanya dari selain-Nya?!”

Pada suatu ketika, Hasan Bin Ali (cucu Rasullulah Saw) lewat di depan Thawus  yang sedang mengisi Majlis Ilmu di suatu kelompok besar di dalam masjid’l-Haram. Ia langsung mendekati Thawus dan membisikkan kepadanya, “Jika pada saat ini anda merasa bangga dengan diri anda, segeralah bangkit dan tinggalkanlah tempat ini!” Mendengar itu, Thawus pun segera bangkit dan meninggalkan majlis itu.

Wuhaib bin Ward mengisahkan: “Pada suatu malam, aku sedang melakukan tawaf di sekeliling ka’bah, ketika tiba-tiba mendengar suara yang berasal dari balik tirai penutup Ka’abah : “Aku mengeluh kepadamu, wahai Jibril, dari ucapan-ucapan sia-sia dan pengunjingan kelompok-kelompok manusia yang bertawaf di sekelilingku. Jika mereka tidak mahu berhenti dari perbuatan mereka itu, aku benar-benar akan bergetar sekeras-kerasnya, sehingga batu-batu di sekitarku akan berguguran dan kembali ke tempat asalnya.”

Diriwayatkan oleh seorang dari kalangan orang-orang soleh, “Aku pernah melihat seorang laki-laki sedang melakukan tawaf dan sa’i dikelilingi beberapa pemuda yang mengawalnya dan mendorong-dorong orang –orang yang berada di sekelilingnya. Beberapa waktu setelah itu, aku melihatnya lagi di kota Baghdad, sebagai pengemis yang meminta-minta dari para pejalan. Maka aku pun bertanya kepadanya:”Mengapa keadaan anda seperti ini?” Katanya: “Dahulu aku telah berlaku sombong di suatu tempat yang seharusnya manusia bersikap rendah hati, maka Allah telah menghinakan diriku di tempat yang biasanya orang-orang berlaku sombong”.

Seorang lainnya dari mereka menceritakan pengalamannya: “Aku pernah melihat seorang fakir di dalam Masjid’l Haram, yang tampak jelas di wajahnya tanda-tanda kesalahan, sedang duduk di atas sejadahnya. Ketika itu aku kebetulan membawa sejumlah wang, yang segera aku letakkan di atas sejadahnya sebagai sedekah, seraya berkata kepadanya: “Semoga anda bisa menggunakan ini sekadar keperluan anda”.

Tetapi ia segera berkata-kata kepadaku: “Hai, sesungguhnya aku telah membeli  tempat ini hanya demi Allah semata-mata, dengan harga beribu-ribu dan kini anda hendak mengusirku dari sini?’ Bersamaan dengan ucapannya itu, ia menepiskan sejadahnya dan segera bangkit dan pergi meninggalkan tempatnya. Sungguh, tidak pernah aku melihat seseorang sedemikian mulianya ketika ia beranjak pergi. Dan tidak pernah pula ada orang yang sedemikian hinanya lebih daripada diriku sendiri ketika berusaha memungut kembali wangku yang berhamburan.”

Ibrahim Bin Ad-han mengisahkan bahawa apda suatu malam fi musim penghujan, keadaan tempat bertawaf di sekitar Ka’bah sunyi sepi dari manusia. Aku pun bertawaf seraya berdoa : “Ya Allah, berikanlah aku ‘ishmah( penjagaan penuh dari Allah Swt) agar aku tidak lagi berbuat pelanggaran terhadap-Mu!” Tiba-tiba terdengar suara berseru: “Wahai Ibrahim! Engkau meminta ‘ishmah-Ku sementara hamba-hamba-Ku seluruhnya meminta hal yang sama. Padahal, jika aku memberikannya kepada kalian semua, siapa lagi Aku akan memberikan anugerah-Ku dan kepada siapa pula akan Ku-berikan ampunan-Ku?”.

            Pada suatu hari, Al-Hasan sedang berwukuf di A’rafah, di tengah terik matahari yang menyengat, ketika seorang laki-laki berkata kepadanya, “Tidakkah sebaiknya anda beralih saja ke tempat yang teduh?”. Dengan terheran-heran Al- Hassan berkata, “Apakah aku kini sedang berada di bawah terik matahari? Sungguh aku teringat satu dosa yang pernah aku lakukan, sehingga aku tidak lagi merasa kan panasnya terik matahari!” padahal, waktu itu, pakaiannya telah basah kuyup kerana peluh yang seandainya diperas, nescaya akan mengalir. Sedangkan dosa yang ia maksud itu mungkin hanya merupakan selintas fikiran yang tercetus begitu saja, yang seandainya terjadi atas orang selainnya, tentu tidak dianggapnya sebagai dosa yang sekecil apa pun. Oleh sebab itu, perhatikanlah betapa besar penghormatan dan pengagungan mereka dari kalangan salaf itu terhadap Tuhan mereka dan betapa jauhnya mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya!

Telah disampaikan pula kepada kami, tentang seorang dari kalangan shalihin itu, yang memungut tujuh buah batu dari padang “Arafah, kemudian meminta kesaksian dari ketujuh batu itu, bahasanya ia benar-benar telah bersaksi dengan kesaksian bahawa ‘tiada tuhan selain Allah’, Pada malam harinya, ia bermimpi seolah-olah berdiri di hadapan Allah Swt. untuk dihisab. Lalu jatuhlah vonnnis atas dirinya agar ia dibawa keneraka. Namun didalam pelaksanaannya, setiap kali ia sampai di depan salah satu pintu dari ketujuh pintu neraka itu, datanglah sebuah batu menutupi rapat-rapat pintu itu. Ia pun menyedari sepenuhnya, bahawa batu-batu itulah yang telah pernah minta kesaksiannya atas tauhidnya kepada Allah swt. Kemudian datanglah syahadat La Iiaha IllaLLah yang membuat pintu syurga terbuka lebar untuknya.

Dikisahkan dari Ali bin Al-Muwaffaq, katanya: “Pada suatu malam setelah wukuf di Arafah, aku bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu berkata kepada temannya : “Tahukah betapa banyak orang yang telah melaksanakan ibadah haji pada tahun ini?”

“Tidak”, jawab temannya itu.

“Jumlah mereka enamratus ribu orang”.

“Lalu, tahukah berapa dari mereka yang diterima hajinya?”

“Tidak!”

“Hanya enam orang sahaja!”

Kata Ibnul-Muwaffaq selanjutnya, “Aku merasa amat sedih, dan bergumam dalam hatiku: “Di mana aku, di antara keenam orang itu?!” Namun pada malam menjelang Hari Raya Idul-Adh-ha aku bermimpi lagi, dan melihat kedua malaikat itu turun lagi. Salah satu dari keduanya bertanya kepada yang lain: “Tahukah bagaimana keputusan Tuhan kita?” “Tidak!” jawab temannya. “Sungguh Allah Swt. telah menetapkan, mengikutkan sebanyak seratus ribu orang kepada setiap orang dari keenam orang yang diterima hajinya (sehingga keseluruhan enam ratus ribu orang diterima haji mereka semuanya).” “Begitulah,” kata Ali ibn Al Muwaffaq selanjutnya, “Ketika aku terjaga, hatiku diliputi kegembiraan sedemikian rupa sehingga tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Dan beberapa tahun kemudian, aku berkesempatan lagi melaksanakan ibadah haji, lalu memikirkan tentang orang-orang yang tidak diterima hajinya. Maka aku pun berdoa, “Ya Allah, aku rela menghadiahkan pahala hajiku kepada siapa-siapa yang tidak Kau terima hajinya.” Pada malam itu, aku tidur dan bemimpi seakan-akan melihat Allah Swt berfirman kepadaku: ‘Hai Ali, adakah engkau hendak menjadikan dirimu lebih dermawan dari aku? Sedangkan Aku lah yang telah menciptakan para dermawan, dan Aku-lah yang paling berhak memberikan kemurahan kepada segenap penghuni alam semesta. Sungguh aku telah menyerahkan siapa-siapa yang tidak Ku-terima hajinya, kepada mereka yang Ku-terima (sehingga semua mereka diterima hajinya)!”

 

Demikianlah kisah-kisah dalam Penutup ini tidak terlepas kaitannya dengan wasiat-wasiat sebelumnya. Bahkan bagi seorang pembaca yang arif tentunya dapat lebih luas lagi menyimpulkan pelbagai aturan dan adab sopan santun darinya, yang kiranya patut diamalkan dalam pelbagai keadaan.

Demikian pula, di dalam membicarakan tentang kiprah para salaf dalam perjalanan hidup mereka, terdapat banyak sekali contoh da tauladan serta kepuasan tersendiri yanf dapat dirasakan oleh setiap orang yang bersuluk menuju akhirat. Sebab, mereka itu adalah sosok-sosok teladan yang patut diteladani. Disamping itu, seseorang hanya bisa menyedari tentang kekurangan-kekurangan dirinya sendiri ketika ia mengetahui tentang kesungguhan perjuangan para salaf itu dalam merintis perjalanan menuju keridhaan Allah Swt. diakhirat.

Adapun seorang yang hanya menyaksikan kiprah orang-orang pada zaman ini, yang lebih banyak diliputi berbagai kelalaian dan penyia-yiaan waktu mereka, sedikit sekali kemungkinannya untuk memperoleh pelajaran yang bermanfaat. Bahkan lebih buruk lagi mereka merasa berbangga diri atas perbuatan mereka, ataupun berperangsangka buruk terhadap para tokoh salaf itu. Kedua-dua sikap seperti itu pasti menimbulkan keburukan.

Kesimpulannya: orang yang berbahagia itu ialah yang mampu mengikuti teladan para pendahukunya yang baik-baik dan selalu menuntut dirinya sendiri agar menempuh jalan mereka yang lurus. Dang dengan ini pula, selesailah wasiat ini dengan mengucapkan syukur kepada Allah Swt. atas taufiq-Nya.

 

Bertakwa dan Berpegang Teguh Pada Al-Quran dan As-Sunnah

            Ketahuilah bahawa wasiat yang paling bermanfaat dan paling mencakup semua aspek kehidupan dunia dan akhirat adalahw asiat Allah Swt. kepada kita, dan kepada orang-orang sebelum kita, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya,

…..Sunguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: bertakwalah kepada Allah. (QS An-Nisa’[4]” 131). Demikian pula wasiat Rasullulah Saw. Kepada para sahabatny dan umatnya iaitu berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah.

 

Melaksanakan Empat Pokok Utama

            Manakala hal-hal tersebut di atas telah  anda ketahui, maka kini saya ingin mewasiatkan agar anda menjaga baik-baik dan melaksanakan empat dasar utama, termasuk hukum-hukumnya dan persyaratan-persyaratannya, sebab hal itu merupakan tumpuan dari segalanya, yang apabila sudah benar pada permulaannya akan membuahkan kebenaran juga pada akhirnya.

Pertama: Memelihara kewajiban-kewajiban, baik yang bersifat batiniah,  seperti ikhlas, yakni pemusatan arah dan tujuan bagi Allah saja, Tuhan Yang Maha Esa Yang Tiada sekutu bagi-Nya, ataupun yang bersifat lahiriah, seperti shalat, yakni berdiri dengan khusyu’ mengadap Allah Swt. Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.

 

Kedua: Meninggalkan semua maksiat (pelanggaran) baik yang bersifat batiniah seperti mengikuti ajakan hawa nafsu ataupun yang bersifat lahiriahl seperti ikut berdesak-desakan bersama kebanyakan manusia zaman ini, dalam upaya memperebutkan bangkai dunia.

 

Ketiga : Tidak bersikap sangat menginginkan sesuatu atau menunjukkan kebutuhan kepada sesuatu selain kepada Allah Swt. saja, disamping tidak merendahkan diri di hadapan siapa pun selain di hadapan Allah Swt.

 

Keempat:bertawakal sepenuhnya dan hanya bergantung kepada Allah Swt. dalam setiap urusan, disamping merasa tercukupi oleh-Nya saja,seraya senantiasa ber-istighfar dab ber isti’anah (meminta pertolongan) kepada-Nya, baik secara terbuka (yakni ketika bersama orang lain) maupun tertutup (yakni ketika berada sendirian).

 

Perkukuhlah keempat pokok utama tersebut dalam diri anda, kemudina tambahkanlah lagi dengan empat hal lainnya:

 

Pertama: Kesungguhan dalam melakukan sesuatu, yakni berdaya upaya sejauh kemampuan demi mencapai kedekatan kepada (Allah Swt) Sang Kekasih.

 

Kedua: Ketulusan, yakni terpusatnya seluruh potensi batiniah dan lahiriah demi meraih sesuatu yang didambakan.

 

Ketiga:Kesabaran, yakni pemantapan diri untuk senantiasa bersungguh-sungguh dan bersikap tulus dalam menghadapi segala rintangan.

 

Keempat: Kekuatan dan ketinggian himmah (tekad), yakni tidak merasa puas selain dengan pengorbanan dan peluruhan diri secara tuntas dan sempurna dalam (mencari keridhaan) Allah Swt. seraya meniadakan keinginan atau kebutuhan apa pun kepada makhluk.

 

Dalam kaitannya dengan makna-makna di atas, alangkah indahnya ungkapan Asy-Syaikh Umar bin Al-faridh dalam syairnya:

 

Kuwakafkan baginya seluruh cinta dan pengorbananku

Walau takkan puas diriku sebelum benar-benar luruh di dalam dirinya

Pabila selain aku cukup puas dengan bayang-bayang khayalnya

Namun aku takkan puas bahkan dengan (hanya) berhubungan dengannya

 

Kemudian, sempurnakanlah keempat pokok utama di atas, dan lengkapilah dengan empat lainnya :

 

Pertama, membaca Al-Quran dengan sungguh-sungguh ber-tadabbur (merenungi maknanya).

Kedua, sering-sering berzikir kepada Allah dengan kehadiran hati.

Ketiga, berdiri dihadapan Allah (bertahajud) dalam kesunyian malam

Keempat, bersahabat dengan orang yang mampu menunjukkan bagimu jalan menuju Allah, atau membantumu dan menguatkan hatimu dalam melaksanakan bakti dan taat kepada-Nya.

 

Menghindari Persahabatan Dengan Orang-Orang yang Buruk Akhlaknya

 

            Hendaklah anda menghindari persahabatan dengan orang yang dapat membuat anda menjauh dari Allah swt. Dan dari perbuatan ketaatan kepada-Nya. Atau yang mengajakmu melanggar perintah-Nya. Atau yang membuat anda lupa berzzikir (mengingat Allah dan mengucapkan nama-Nya), baik yang ia lakukan dengan ungkapan yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi.

 

Menghindar dari ajakan yang  melalui ucapan terang-terangan tentunya sudah jelas bagi anda. Sedangkan menghindar dari ajakan yang halus tersembunyi ialah dengan menyedari bahawa tidak sekali pun anda duduk-duduk bersama seseorang yang menyembunyikan di dalam hatinya niatan untuk meninggalkan pelbagai ketaatan kepada Allah, atau yang terus-menerus melakukan pelbagai pelanggaran terhadap perintah-perintah-Nya, kecuali akan mengalir pula  dari hatinya ke dalam hati anda, suatu perasaan persetujuan – walau hanya sedikit – atas sikap dari perilakunya itu.

            Maka hendaklah anda, pada zaman seperti sekarang ini, tidak memilih duduk berbincang-bincang bersama seseorang, kecuali jika anda merasa yakin dapat memperoleh menfaat darinya, di bidang agama anda. Misalnya, dengan duduk bersamanya, anda akan bertambah kesedaran akan pentingnya jalan yang anda tempuh atau anda bertambah semangat dalam upaya meraih idaman anda atau anda sendiri justeru dapat memberinya manfaat dalam agama0nya. Namun, semua itu tidak boleh dilakukan kecuali setelah anda benar-benar yakin akan keselamatan diri anda sendiri. Camkanlah baik-baik hal ini!

 

Berhati- hati dan Bersikap Waspada Dalam Pergaulan

 

Ada tiga motivasi yang dapat memaksa seorang murid (yakni yang hendak bersuluk atau menempuh ‘jalan akhirat’) di suatu saat, untuk bercampur gaul dengan sebahagian masyarakat.

Pertama, kerana memang diwajibkan (ataupun dianjurkan) oleh syariat, misalnya dalam kaitannya dengan anggota keluarga yang dekat.

Kedua, kerana memerlukan sesuatu dalam urusan agama maupun dunianya yang tidak dapat terpenuhi kecuali dengan bergaul dengan mereka.

 

Ketiga, adakalanya seorang murid merasa sumpek atau kesepian dalam kesendiriannya atau timbul perasaan jenuh yang menghinggapi hatinya setelah lama ber-tawajjuh(mengkonsentrasikan diri dalam beribadat). Perasaan seperti itu sudah merupakan bagian dari tabiat mnausia dan tidak mungkin terhapus atau hilang sama sekali kecuali dengan melakukan pergaulan dengan orang-orang tertentu. Dan yang demikian itu bahkan termasuk salah satu kiat untuk menenangkan jiwa atau menimbulkan kembali semangat yang sudah mulai pudar, sebagaimana diriwayatkan berkenaan dengan beberapa orang sahabat Nabi Saw.

Oleh sebab itu, seandainya anda pada suatu saat memang memerlukan hiburan atau penyegaran separti itu, hendaklah pertama-tama membaikkan niat anda, dan mencari tahu – atau paling sedikit,memperkirakan – akan keselamatan agama anda ketika bergaul dengan mereka itu. Selanjutnya, seandainya ada suatu pelanggaran (maksiat) yang dilakukan di hadapan anda, maka bertindaklah segera untuk melakukan teguran. Dan apabila teguran anda itu tidak didengarkan dan tidak pula dihiraukan, maka selamatkanlah dirimu dan larilah jauh-jauh demi menyelamatkan agamamu.

 

Berserah Diri Sepenuhnya Kepada Allah Swt.

 

Hendaklah anda senantiasa berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt., seraya meyakini bahwa tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan-Nya. Dan seandainya pada suatu saat anda merasa gelisah, atau sumpek, atau dada terasa sempit kerana diliputi kecemasan, maka perbanyakkanlah membaca:

 

(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).

 

Itulah ubat penawar yang sangat bermanfaat dan sangat manjur bagi semua penyakit yang seperti itu.

 

Perbanyakkan pula doa yang diucapkan oleh Dzu’n-Nun (a.s) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:

 

(Tiada Tuhan melainkan Engkau;Maha Suci Engkau, sungguh aku [sebelum ini] termasuk orang-orang zalim)

 

Mencurigai Diri Sendiri dan Menuntutnya Agar menjadi Lebih Baik

 

            Hendaklah anda selalu mencurigai diri anda sendiri (atau menujukan tuduhan kepadanya) di setiap saat, baik ia dalam keadaan pauh ataupun dalam keadaan menentang. Jangan sekali-kali merasakan kepuasan berkaitan dengannya sebab barang siapa puas dengan dirinya sendiri, akan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. Tuntutlah ia agar selalu tunduk patuh kepada Tuhannya, dan sadarkalah ia selalu akan pelbagai kekurangannya dalam menunaikan kewajipan terhadap-Nya, betapa pun anda merasa telah melakukan upaya maksimal ke arah itu. Sebab, sungguh amat besar hak Tuhanmu atasnya.

 

Mensyukuri Kurnia-kurnia Allah

 

Hendaklah anda selalu mengingat nikmat kurnia Allah- yang bersifat lahiriah maupun batiniah dan yang ebrkaitan dengan urusan agama maupun dunia- yang dilimpahkan kepada anda. Perbanyakkan syukurmu itu dalam setiap kesempatan dengan hatimu maupun melalui ucapanmu.

 

Ungkapan syukur dengan hatia adalah dengan menyedari bahawa setiap nikmat yang diperolehnya adalah dari Allah Swt. Dan bahwa kegembiraannya ketika menerima suatu kenikmatan adalah disebabkan hal itu merupakan salah satu wasilah (sarana) untuk pendekatan diri kepada-Nya.

Adapun ungkapan syukur melalui lisan adalah dengan memperbanyakkan puji-pujian kepada Allah Swt., Sang Pelimpah kenikmatan. Sedangkan yang melalui anggota-anggota tubuh lainnya adalah dengan mengarahkan semua kenikmatan itu untuk dijadikan sarana mencari keredhaan Allah Swt., disamping menggunakannya sebagai alat bantu dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya.

SANG PEMILIK DERAJAT YANG TINGGI
Tempat Berlabuhnya Para Auliya’

Alkisah tentang seorang Imam Al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para auliya’ di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan laksana batu karang yang tegarditerpa samudera, seorang yang telah terkumpul dalam dirinya antara Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, beliau adalah Al-habib Al-Imam Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam (Wadi-Al-ahqaf) Al-habib Umar bin Segaf Assegaf.

Nasab yang mulia ini terus bersambung dari para pembesar ke kelompok pembesar lainnya, bagai untaian rantai emas hingga sampailah kepada tuan para pendahulu dan yang terakhir, kekasih yang agung junjungan Nabi Muhammad SAW.

Habib Abubakar dilahirkan di kota Besuki, sebuah, kota keci di kabupaten Sitibondo Jawa Timur, pada tanggal 16 Dzulhijjah 1285 H. Dlm pertumbuhan hidupnya yang masih kanak-kanak, ayahanda beliau tercinta telah wafat dan meninggalkannya di kota Gresik. Sedang disaat-saat itu beliau masih membutuhkan dan haus akan kasih sayang seorang ayah. Namun demikian beliau pun tumbuh dewasa di pangkuan Inayah Ilahi dlm lingkungan keluarga yang bertaqwa yang telah menempanya dengan pendidikan yang sempurna, hingga nampaklah dalam diri beliau pertanda kebaikan dan kewalian.

Konon diceritakan bahwa beliau mampu mengingat segala kejadian yang dialaminya ketika dalam usia tiga tahun dengan secara detail. Hal ini tak lain sebagai isyarat akan kekuatan Ruhaniahnya yang telah siap untuk menampung luapan anugerah dan futuh dari Rabbnya Yang Maha Mulia.

Pada tahun 1293 H. segeralah beliau bersiap untuk melakukan perjalanan jauh menuju kota asal para leluhurnya, “Hadramaut”. Kota yang bersinar dengan cahaya para auliya’. Perjalanan pertama ini adalah atas titah dari nenek beliau (Ibu dari ayahnya) seorang wanita salihah “Fatimah binti Abdullah Allan”. Dengan ditemani seorang yang mulia, Assyaikh Muhammad Bazmul, beliaupun berangkat meninggalkan kota kelahiran dan keluarga tercintanya. Setelah menempuh jarak yang begitu jauh dan kepayahan yang tak terbayangkan maka sampailah beliau di kota “Siwuun”. sedang pamannya tercinta “Al-allamah Al-habibAbdillah bin Umar” beserta kerabat yang lain telah menyambut kedatangannya di luar kota tersebut.

Tempat tujuan pertamanya adalah kediaman seorang Allamah yang terpandang di masanya, Al-Arif billah “Al-habib syaikh bin Umar bin Seggaf”. Sesampainya di sana Habib Syaikh langsung menyambut seraya memeluk dan menciuminya, tanpa terasa air mata pun bercucuran dari kedua matanya, sebagai ungkapan bahagia atas kedatangan dan atas apa yang dilihatnya dari tanda-tanda wilayah di wajah beliau yang bersinar itu. Demikianlah seorang penyair berkata: “hati para auliya’ memiliki mata yang dapat memandang apa saja yang tak dapat dipandang oleh manusia lainnya”. Dengan penuh kasih sayang, Habib Syaikh mencurahkan segala perhatian kepadanya, termasuk pendidikannya yang maksimal telah membuahkan kebaikan dalam diri Habib Abubakar yang baru beranjak dewasa. Bagi Habib Bakar menuntut ilmu adalah segala-galanya dan melalui pamannya “Al-habib Umar” beliau mempelajari Ilmu fiqih dan tasawwuf.

Ketika menempa pendidikan dari sang paman inilah, pada setiap malam beliau dibangunkan untuk shalat tahajjud bersamanya dalam usia yang masih belia. Hal ini sebagai upaya mentradisikan qiyamul-lail yang telah menjadi kebiasaan orang-orang mulia di sisi Allah atas dasar keteladanan dari Baginda Rasulillah SAW. Hingga apa yang dipelajari beliau tidak hanya sebatas teori ilmiah namun telah dipraktekkan dalam amaliah kesehariannya.

Rupanya dalam kamus beliau tak ada istilah kenyang dalam menuntut ilmu, selain dari pamannya ini, beliau juga berkeliling di seantero Hadramaut untuk belajar dan mengambil ijazah dari para ulama’ dan pembesar yang tersebar di seluruh kota tersebut. Salah seorang dari sederetan para gurunya yang paling utama, adalah seorang arif billah yang namanya termasyhur di jagad raya ini, guru dari para guru di zamannya ” Al-Imam Al-Qutub Al-habib Ali bin Muhammad Al-habsyi” r.a. sebagai Syaikhun-Nadzar. (Guru Pemerhati).

Perhatian dari maha gurunya ini telah tertumpahkan pd murid kesayangannya jauh sebelum kedatangannya ke Hadramaut, ketika beliau masih berada di tanah Jawa. Hal ini terbukti dengan sebuah kisah yang sangat menarik antara Al-habib Ali dengan salah seorang muridnya yang lain. Pada suatu hari Habib Ali memanggil salah satu murid setianya. Beliau lalu berkata “Ingatlah ada tiga auliya’ yang nama, haliah dan maqam mereka sama”. Wali yang pertama telah berada di alam barzakh, yakni Al-habib Qutbul-Mala’ Abubakar bin Abdullah alydrus, dan yang kedua engkau pernah melihatnya di masa kecilmu, yaitu Al-habib Abubakar bin Abdullah at-Attas, adapun yang ketiga akan engkau lihat dia di akhir usia kamu. Habib Ali pun tidak menjelaskan lebih lanjut siapakah wali ketiga yang dimaksud olehnya.

Selang waktu beberapa tahun kemudian, tiba-tiba sang murid tersebut mengalami sebuah mimpi yang luar biasa. Dalam sebuah tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, kala itu dalam mimpinya Nabi SAW menuntun seorang anak yang masih kecil sembari berkata kepada orang tersebut, lihatlah aku bawa cucuku yang shaleh “Abubakar bin Muhammad Assegaf”! Mimpi ini terulang sebanyak lima kali dalam lima malam berturut-turut, padahal orang tersebut tak pernah kenal dengan Habib Abubakar sebelumnya. Kecuali setelah diperkenalkan oleh Nabi SAW.

Pada saat ia kemudian bersua dengan Habib Abubakar Assegaf, iapun menjadi teringat ucapan gurunya tentang tiga auliya’ yang nama, haliah dan maqamnya sama. Lalu ia ceritakan mimpi tersebut dan apa yang pernah dikatakan oleh Habib Ali Al-habsyi kepada beliau. Kiranya tak meleset apa yang diucapkan Habib Ali beberapa tahun silam bahwa ia akan melihat wali yang ketiga di akhir usianya, karena setelah pertemuannya dengan Habib Abubakar ia pun meninggalkan dunia yang fana ini, berpulang ke Rahmatullah, Takdiragukan lagi perhatian yang khusus dari sang guru yang rnulia ini telah tercurahkan kepada murid kesayangannya, hingga suatu saat Al-habib Ali Al-habsyi menikahkan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dengan salah seorang wanita pilihan gurunya ini di kota Siwuun, bahkan Habib Ali sendirilah yang meminang dan menanggung seluruh biaya perkawinannya.

Selain Habib Ali, masih ada lagi yang menjadi “Syaikhut-Tarbiah” (Guru pendidiknya) yakni pamannya tercinta Al-habib Abdillah bin Umar Assegaf. Adapun yang menjadi “Syaikhut-Tasliik” (Guru pembimbing beliau) Al-habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi. Sedang yang menjadi “Sya’ikul-Fath” (Guru pembuka) adalah Al-wali- Al-mukasyif Al-habib Abdulqadir bin Ahmad bin Qutban yang acap kali memberinya kabar gembira dengan mengatakan:
“Engkau adalah pewaris haliah kakekmu Umar bin Segaf”.

Demikianlah beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, mengambil ijazah serta ilbas dengan berpindah dari pangkuan para auliya’ dan pembesar yang satu dan yang lainnya di seluruh Hadramaut, Siwuun, Tarim dan sekitarnya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu nama mereka. Setelah semuanya dirasa cukup dan atas izin dari para gu¬runya, beliaupun mulai meninggal-kan kota para. auliya’ itu untuk kembali ke tanah Jawa, tepatnya pada tahun 1302 H.

Dengan ditemani Al-Arif billah Alhabib Alwi bin Segaf Assegaf (dimakamkan di Turbah Kebon-Agung Pasuruan) berangkatlah beliau ke Indonesia. Adapun tujuan pertamanya adalah kota kelahirannya Besuki -Jawa timur, setelah tiga tahun tinggal di sana, beliau lalu berhijrah ke kota Gresik pada tahun 1305 H dalam usia dua puluh tahun. Dan di kota inilah beliau bermukim. Mengingat usianya yang masih sangat muda, maka kegiatan menuntut Ilmu, Ijazah dan Ilbas masih terus dilakoninya tanpa kenal lelah.

Beliaupun terus menerus berkunjung kepada para auliya’ dan ulama’yang telah menyinari bumi pertiwi ini dengan kesalehannya. Sebagaimana Al-habib Abdullah bin Muhsin Al-attas, Alhabib Ahmad bin Abdullah Al-attas, Alhabib Ahmad bin Muhsin Alhaddar, Alhabib Abdullah bin Ali Alhaddad, Alhabib Abubakar bin Umar bin Yahya, Alhabib Muham¬mad bin Ahmad Almuhdar dan masih banyak lagi yang lainnya, Radhiallahu anhum ajmaiin.

Pada tahun yang sama tepatnya pada hari Jum’at, telah terjadi sebuah peristiwa yang di luar jangkauan akal manusia dalam diri beliau. Yaitu di saat beliau tengah khusuk mendengarkan seorang khatib yang menyampaikan khutbahnya di atas mimbar, tiba-tiba beliau mendapat lintasan hati Rahmani dan sebuah izin Rabbaniy, ketika itu nuraninya berkata agar beliau segera mengasingkan diri dari manusia sekitarnya. Hatinya pun menjadi lapang untuk melakukan uzlah menjauhkan diri dari kehidupan dunia.

Seketika itu juga beliau beranjak meninggalkan Masjid Jami’ langsung menuju rumah, dan sejak saat itu beliau tidak lagi menemui seorang pun dan tidak pula memberi kesempatan orang untuk menemuinya. Hal ini beliau lakukan tiada lagi hanya untuk mengabdikan diri dan beribadah kepada Rabbnya dengan segenap jiwa raganya, dan berlangsung sampai lima belas tahun lamanya. Hingga tibanya izin dari Allah agar beliau keluar dari khalwatnya untuk kembali berinteraksi dengan manusia di sekitarnya.

Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh gurunya Alhabib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, seraya berkata. “Aku telah memohon dan bertawajjuh pada Allah selama tiga hari tiga malam untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf”. Habib Muhammad lalu menuntunnya keluar dan membawanya berziarah ke makam seorang wali yang tersohor dan menjadi mahkota bagi segala kemuliaan di zamannya, yakni Alhabib Alwiy bin Muhammad Hasyim r.a.

Setelah ziarah, beliau berdua lalu berangkat menuju kota Surabaya ke kediaman Alhabib Abdullah bin Umar Assegaf. Di tengah- tengah orang-orang yang hadir pada saat itu, berkatalah Alhabib Muhammad bin Idrus sembari tangannya menunjuk ke arah Habib Abubakar “Ini adalah khasanah dari seluruh khasanah Bani Alawiy yang telah kami buka untuk memberi manfaat kepada orang khusus dan umum”.

Pasca kejadian tersebut, mulailah Alhabib Abubakar menetapkan jadwal Qira’ah (pembacaan kitab-kitab salaf) di rumahnya. Dalam waktu yg singkat beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya, bagaikan Ka’bah yang tak pernah sepi dari peziarah yang datang mengunjunginya dari berbagai penjuru dunia. Siapa saja yang datang kepada beliau disertai dg HusnudDzan (berbaik-sangka) maka ia akan beruntung dengan tercapai segala maksudnya dalam waktu yang dekat.

Di Majlis yang diadakannya itu beliau telah mengkhatamkan kitab “Ihya’ Ulumuddin” sebanyak lebih dari empat puluh kali. Dan disetiap mengkhatamkannya, beliau selalu mengadakan jamuan besar-besaran untuk orang yang hadir di majlisnya. Alhabib Abubakar dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sirah dan jejak para salafnya, bahkan pada segala adat istiadatnya. Seluruh majlis beliau senantiasa dimakmurkan dengan kajian-kajian ilmiah yang bersumber dari semua kitab karya para salafnya.

Jika kita berbicara tentang Maqam dan kedudukan beliau, maka tak satupun dari para Auliya’ pada masa beliau yang menyangsikannya. Beliau telah mencapai tingkatan “Asshiddiqiyyah-Alkubra” yang telah diisyaratkan sebagai “Sahibulwaqt” {panglima tertinggi para Auliya’ di masanya). Keluhuran maqamnya telah diakui oleh seluruh yang hidup di zaman beliau. Telah berkata Alhabib Muhammad bin Ahmad Almuhdar dalam sebuah suratnya kepada beliau (dengan mengutip beberapa ayat Alqur’an).
“Demi fajar “Dan malam yang sepuluh” dan yang genap dan yang ganjil” (Sesungguhnya Saudaraku Abubakar bin Muham¬mad Assegaf adalah permata yang lembut yang beredar dan beterbangan menjelajah seluruh maqam para leluhur-nya)..

Berkata pula panutan kita, seorang yang telah diakui keunggulan dan keilmuannya Al-habib Alwiy bin Muhammad Alhaddad :
“Sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah “Alqutbul Ghauts” dan sesungguhnya ia adalah tempat tumpuan pandangan Allah”.

Pada kesempatan lain beliau berkata:
“Aku tidak takut (segan) kepada satu pun makhluk Allah kecuali kepada habib Abubakar bin Muhammad Assegaf”.
Sebenarnya pada masa keemasan itu banyak sekali orang-orang yang patut disegani, namun kini mereka semua telah berpulang ke rahmat Allah SWT. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan beliau yang tak dapat kami torehkan dalam tulisan ini.

Berkata juga seorang sumber kebaikan di zamannya, dan kebanggaan pada masanya, seorang da’i yang selalu mengajak kejalan Allah dengan ucapan dan perbuatannya, Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Kwitang-Jakarta). Ketika itu di kediaman Habib Abubakar (Gresik), pada saat beliau menjalin persaudaraan dengannya, seraya memberi isyarat kepada Habib Abubakar dan air matanya berlinang, berkata kepada para hadirin saat itu “Ini (habib Abubakar) adalah raja lebah (raja para auliya’) ia saudaraku di jalan Allah, lihatlah kepadanya! Karena memandangnya adalah ibadah”.

Berkata seorang panutan orang-orang yang arif Alhabib Husain bin Muhammad Alhaddad, sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah, dialah pemimpin para auliya’ di masanya, ia telah mencapai “Maqam as-Syuhud” hingga beliau mampu menerawang hakekat dari segala sesuatu. Beliau melanjutkan ungkapannya dengan mengutip sebuah ayat al-Qur’an “Sungguh patut jika dikatakan padanya; Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) (QS: Azzukruf59).

Maksudnya beliau tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah dilimpahi nikmat dan anugerah Allah SWT. Kiranya telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan bersua dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Berkata yang mulia r.a. bahwa:
“Arrasul SAW telah masuk menemuiku sedang aku dalam keadaan terjaga, beliau lalu memelukku dan akupun memeluknya”.

Para auliya’ bersepakat, bahwa Maqam Ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqam yang lain. Hal ini tidak lain adalah buah dari Ittiba’ (keteladanan) beliau yang tinggi terhadap Nabinya SAW. Adapun kesempurnaan Istiqamah merupakan puncak segala karamah. Seorang yang dekat dengan beliau berujar bahwa aku sering kali mendengar beliau mengatakan:
“Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah”.

Pada saat menjelang ajalnya, seringkali beliau berkata “Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah” maka sebelum kemangkatannya ke rahmat Allah, beliau mencegah diri dari makan dan minum selama lima belas hari, namun hal itu tak mengurangi sedikitpun semangat ibadahnya kepada Allah SWT. Setelah ajal kian dekat menghampirinya, diiringi kerinduan berjumpa dengan khaliqnya, Allah pun rindu bertemu dengannya, maka beliau pasrahkan ruhnya yang suci kepada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi

Beliau wafat pada hari Ahad malam Senin, hari ke tujuh belas di bulan Dzulhijjah 1376 H, dalam usia 91 tahun.

(Disampaikan dalam majlis mingguan di Mesjid Raya Empang Bogor – bersama Alhabib Muhammad bin Agil Al-Attas)

 

Suatu hari Rasulullah SAW bermaksud berbelanja. Dengan bekal uang 6 dirham, beliau hendak membeli pakaian dan peralatan rumah tangga…

 

Belum juga sampai di pasar, beliau mendapati seorang anak wanita yang sedang menangis.

 

Beliau sempatkan bertanya kenapa wanita yg menangis tersebut, “Apa yang menyebabkan anda menangis?”

Anak perempuan itu menjawab, “ Tadi pagi saya diberi uang 2 dirham oleh majikan untuk berbelanja keperluan rumah tangga, akan tetapi uang yang diberikan itu hilang. Saya takut majikan saya akan marah karena pulang tidak membawa apa-apa.”

Terlintas dibenaknya akan deraan dari majikannya karena itulah dia menangis sampai Rasulullah SAW melihatnya.

 

Seketika itu juga Rasulullah SAW mengeluarkan uang yang 6 dirham dan diberikannya kepada anak perempuan itu. “ Terimalah uang 2 dirham ini sebagai ganti uang majikanmu yang hilang, segeralah belanja keperluan yang diperlukan oleh majikanmu.”

 

Kini uang yang dimiliki oleh Rasulullah SAW tinggal 4 dirham, beliau segera memasuki pasar. Beliau membeli beberapa keperluan rumah serta baju gamis dan pakaian kesukaannya. Semua itu dipanggul sendiri oleh beliau, sesampainya di luar terlihat seorang lelaki tua bertelanjang dada, bersarung kumal berteriak lantang, “ Barang siapa yang memberikku pakaian maka aku akan mendo’akannya agar Allah mendandaninya kelak.”

 

Rasulullah SAW mendekatinya dan memberikan gamis dan pakaian yang baru saja dibelinya, melihat orang yang menyambut dan memberikan apa yang dimintanya itu adalah Rasulullah SAW yang menjadi kekasihnya membuat lelaki itu terpana dan berusaha menolaknya akan tetapi Rasulullah SAW tetap memaksanya dan dipakaikannya gamis dan baju baru tersebut sehingga matanya berkaca-kaca atas pelakuan yang diberikan oleh kekasih Allah tersebut.

 

Dengan langkah ringan beliau meneruskan langkah kakinya hendak segera pulang, akan tetapi lagi-lagi beliau harus bersabar. Didepannya terlihat anak perempuan yang diberi dua dirham tersebut sedang menunggunya, anak tersebut mengadukan persoalan, bahwa ia takut pulang. Ia khawatir akan dihukum oleh majikannya karena terlambat. Sebagai budak saat itu nilainya tidak lebih dari seekor binatang. Hukuman fisik sudah sangat lazim diterima. Maka dengan senang hati, beliau mengantarkan anak perempuan tersebut ke rumah majikannya.

 

Rasulullah berjalan di muka anak perempuan itu, beliau mengikuti setiap instruksi yang diberikan untuk menuju rumah majikannya. Bila anak itu bilang belok kiri, maka Rasulullah SAW pun belok kiri.

 

Sesampainya di rumah majikan tersebut, beliau mengucapkan salam. Sekali, dua kali belum ada jawaban. Baru salam yang ketiga dijawab oleh penghuni rumah.

 

“ Mengapa kalian tidak menjawab salamku, baru yang ketiga baru dijawab?” Tanya Rasulullan SAW.

“ Ya Rasulullah, salam anda itu adalh do’a karena itu kami ingin dido’akan oleh kekasih Allah.” Jawab penghuni rumah.

 

Rasulullah SAW segera menyampaikan maksud kedatangnya, mendengar hal tersebut penghuni rumah segera berkata.” Ya Rasulullah, Kami tidak akan menghukum budak kami karena dia lebih mulia daripada kami. Dia telah berjalan dengan kekasih Allah sedangkan kami belum pernah sekalipun, sudah sejak tadipun kami telah memerdekan budak tersebut karena Allah.”

 

Betapa bahagianya Rasulullah mendengar hal tersebut, beliau bersyukur dengan uang 6 dirham mendapatkan keuntungan ribuan dirham yakni harga budak itu sendiri. Beliau berkata, “Tiadalah aku melihat 6 dirham demikian besar berkatnya dari pada 6 dirham yang ini. Allah telah memberi ketenteraman bagi orang yang ketakutan, memberi pakaian orang yang telanjang, dan membebaskan seorang budak belian.”

 

Akhirnya, rahmat dan kasih sayang, bantuan dan pertolongan kepada masyarakat bawah akan mendatangkan kesejahteraan dan kemajuan. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsyi. “Bahwanya Allah menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya.”

 

Dari cerita tersebut dapat kita lihat semua, betapa mulia dan kasihnya Rasulullah SAW terhadap sesame. Beliau tidak memandang kedudukan dan derajat seseorang, lihatlah apa yang telah dilakukan terhadap seorang budak yang mungkin dimata kita tidak berharga sama sekali akan tetapi Rasulullah SAW tetap memperhatikannya. Karena itu sudah sepatutnya kita mencontoh Akhlak beliau, bila kita memiliki mobil dan kita mempekerjakan saudara kita untuk menyupirinya maka janganlah kita menyebutnya “ itu supir kita” akan tetapi katakanlah “ saudara saya yang membantu/menolong untuk mengantarkan saya bepergian”.

 

Selain itu juga, hikmah lainnya adalah setiap kita berbelanja di pasar, toko atau dimanapun janganlah kita meminta tolong orang lain untuk membawakan barang belanjaan kita. Contohlah Rasulullah SAW, beliau membawa sendiri barang belanjaannya begitu juga yang telah diikuti oleh para sahabat lainnya.

 

Setiap peri kehidupan Rasulullah SAW adalah contoh bagi kita semua, kita lihat bahwa hidup Rasulullah sangat sederhana padahal beliau adalah seorang pemimpin umat dan kekasih Allah SWT. Apapun yang dimintanya pasti Allah akan mengabulkannya.

 

Suatu hari ada seorang yahudi yang memiliki suatu persoalan, ia segera berjalan menuju rumah Rasulullah SAW. Di tengah jalan ia bertemu dengan Rasulullah, segera saja ia menyampaikan maksud dan tujuannya. Rasulullah segera kembali menuju rumah bersama yahudi tersebut akan tetapi ditengah jalan ada seorang wanita tua mencegat beliau untuk bertanya beberapa masalah, Rasulullah segera berhenti dan mendekati wanita tua itu sambil menundukan kepalanya mendengarkan setiap perkataan yang dikeluarkan oleh wanita tersebut. Yahudi itu melihat Rasulullah  SAW begitu sabarnya melayani dan mendengarkan wanita tua itu walaupun pertanyaan itu hanya diulang-ulang, sampai puas barulah meneruskan kembali perjalannnya.

 

Sesampainya di rumah, Rasulullah SAW mempersilakan yahudi masuk. Ia tidak melihat ada apa-apa di rumah Rasulullah SAW yang ketika itu menjadi seorang pemimpin, hanya ada satu tikar kecil dari pelepah kurma tergeletak hanya cukup untuk satu orang.

 

Rasulullah SAW mempersilakan yahudi tersebut untuk duduk diatas tikar tersebut, yahudi itu menolaknya akan tetapi Rasulullah SAW tetap memaksanya karena ia adalah tamunya. Akhirnya orang yahudi itu, berkata, “ Ya Muhammad, tadinya saya akan menyangka kalau anda tidak akan memperlakukan saya dengan baik karena perbedaan keyakinan. Sungguh mulia akhlakmu, saksikanlah wahai kekasih Allah mulai saat ini saya akan mengikuti ajaranmu. “ Saat itu juga ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.