Di satu sisi, ia adalah seorang ulama berpengetahuan yang luas. Di sisi yang lain, ia adalah seorang waliyullah yang bermaqam tinggi. Akan tetapi, kedua kelebihan itu tertutupi oleh sikap tawadhu’ (rendah hati)-nya

Samudera Hindia sedang tidak ramah. Saat itu, sebuah kapal yang mengarah ke Haramain mendadak berhenti. Mesin penggeraknya rusak. Tak ayal, seluruh penumpang takut dan panik.

Di tengaah situasi tak menentu itu, seorang Habib dengan wajah teduh naik ke atas dak. Di situ ia kemudian merapalkan doa dan bertawasul kepada wali penguasa daerah yang dipijak itu.

Sebentar kemudian, ia menyaksikan sosok Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf (Gresik) di tengah hamparan gelombang, tersenyum padanya. Usai pemandangan itu lenyap, ia mendengar kapten kapal memberikan pengumuman bahwa mesin kapal sudah normal dan kapal siap melanjutkan perjalanan kembali.

Kisah di atas adalah secuplik perjalanan hidup Habib Husein bin Abdullah al-Hamid. Dialah sosok Ha¬bib yang bertawasul ditengah lautan. Ketika peristiwa itu terjadi, ia tengah dalam perjalanan haji bersama isterinya.

Habib Husein lahir pada 21 Ramdhan 1301 Hijriyah di kota Amed, Hadramaut, Yaman. Sejak kecil ia su¬dah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan di banding bocah-bocah sepantarannya. Ia adalah cucu Habib Sholeh bin Abdullah al-Hamid, wali qutub yang masyhur di kota Amed.

Dalam pendidikan. Habib Husein mula-mula belajar qiroah al-Qur’an pada Syekh Muhammad bin Umar Balmahdi di kota Amed. Lalu, ia menaiki jenjang pengetahuan dengan mempelajari dasar-dasar fikih pada Habib Ahmad bin Abdullah bin Salim al-Kaff dan Habib Muhammad bin Ahmad al-Musawa.

Ia juga menimba pengetahuan kepada dua putra Habib Sholeh bin Abdullah al-Atlas, seorang wali besar yang manakibnya terperinci dalam kitab Tajul A’rasy, yakni Habib Muhammad bin Sholeh dan Habib Umar bin Sholeh. Selain kepada mereka, selama di Hadramaut, ia juga belajar kepada Habib Muhammad bin Ahmad al-Attas dan saudaranya, Habib Husein bin Ahmad al-Attas.

Selanjutnya, Habib Husein bersafar ke Haramain guna menunaikan ibadah Haji dan Umrah serta berziarah ke makam datuk teragungnya, Sayyidil Kaunain, Rasulullah SAW.

Usai berhaji dan ziarah, Habib Husein tak langsung beranjak pulang ke Hadramaut. Ia menetap dulu di Mekkah selama tiga tahun, ia masih ingin meredakan dahaganya dengan meneguk ilmu-ilmu dari para masyayikh Haramain. diantaranya adalah Syekh Umar bin Abu Bukar Bajunaid dan Syekh Muhammad bin Abi Mujahid.

Selama mukim di Mekkah, Habib Husein tinggal di Rubat Sadah. Kebetulan juga saat itu Habib Ahmad bin Abdullah al-Kafff, guru Habib Husein sewaktu di Hadamraut, juga sedang tinggal di Rubat itu untuk beberapa lama. Maka, kesempatan emas ini tak disia-siakan oleh Habib Husein. Ia menggali lebih dalam lagi pengetahuan gurunya itu. Dan selama di Rubat itu pula, Habib Husein mendapatkan bimbingan khusus dari sang guru.

Setelah genap tiga tahun bermukim di Mekkah, Habib Husein berhasrat meneruskan kelananya ke pulau Jawa. Dan kota pertama yang dituju adalah Bojonegoro, Jawa Timur. Di kota ini, Habib Husein tinggal di rumah Syekh Abdullah Bayaksyud, seorang Hadrami yang juga berasal dari daerah Wadi Amed.

Rumah Syekh Bayaksyud ternyata memiliki arti tersendiri dalam lembaran sejarah Habib Husein. Sebab, di rumah itulah ia untuk pertama kalinya bertemu syekh futh-nya, Habib Abdul Qadir bin Alwi bin Idrus as-Segaf.

Kronologisnya begini, selang tidak seberapa lama setelah Habib Husein menumpang di rumah Syekh Bayaksud, Habib Abdul Qadir bin Alwi seorang ulama besar asal Sewun yang tinggal di Tuban, tiba di Bojonegoro dan mampir di rumah itu. Tak disebutkan dengan jelas, untuk tujuan apa beliau datang di kota itu. Yang jelas, dalam kesempatan itu, Syekh Bayaksyud memperkenalkan Habib Husein kepada Habib Abdul Qadir bin Alwi.

Pertemnan itu berbuntut manis. Pasalnya, dari situ Syehk Bayaksud mengusahakan pernikahan Habib Husein dengan salah satu cucu Habib Abdul Qadir, Hababah Shalihah binti Idrus bin Salim bin Syekh Abu Bakar. Dan usaha ini berhasil. Akhirnya Habib Husein pun menjadi menantu wali qutub yang mastur tersebut.

Setelah menikah, Habib Husein tinggal bersama mertuanya di kawasan Kutorejo, Tuban, Jawa Timur. Baru setelah Habib Abdul Qadir meninggal, ia boyongan ke rumahnya sendiri yang bersahaja di tempat yang tak jauh dari rumah mertuanya tersebut.

Belakangan Habib Husein memiliki rumah lagi di kota Tayu dan Pati, Jawa Tengah, Rumah yang di Tayu didiami oleh isteri beliau yang bernama Syarifah Maryam binti Abdurrahman al-Qadri, sementara rumah yang di Pati didiami oleh isterinya yang lain, Syarifah ‘Aisyah binti Husein al-Aidarus.

Selama di Indonesia, Habib Husein masih menyempatkah diri mengasah pengetahuanya. Diantaranya kepada syekh fath-nya yang notabene mertuanya sendiri, Habib Abdul Qadir bin Alwi as-Segaf. Juga kepada para pembesar Habaib Jawa di masa itu, antara lain Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya), Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas (Pekalongan), Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas (Bogor), Habib Muhammad bin al-Muhdhar (Bondownso), Habib Segaf bin Alwi as-Segaf dan Habib Alwi bin Thahir al-Haddad (Bogor).

Habib Husein juga tercatat pernah menjadi murid Syekh al-Mu’ammar Abdul Qadir Syawi’. Namun sejatinya, guru yang paling banyak memberikan suapan pengetahuan fikih dan tasawuf pada Habib Husein adalah Habib Abu Bakar bin Muhammad Bafakih, seorang allamah kota Tuban yang dikenal keras dan tegas,

Habiib Husein adalab sosok ulama yang ‘abid (genar beribadah). Ia Zuhud dari gemerlap dunia. Jiwa sosialnya tinggi. Ia sangat memperhatikan keadaan fakir miskin dan para janda. Ia pun tak segan mengulurkan tangan untuk mereka meski keadaannya sendiri boleh dibilang pas-pasan.

Ulama yang satu ini juga dikenal sangat pendiam. Mengambil ungkapan orang Jawa, ia takkan bicara kalau belum ditabuh. Tapai kalau sudah bicara, butir-butir ilmu yang penuh hikmah akan bersemburatan dari pucuk-pucuk lisannya.

Memang shahih, ilmu Habib Husein sangat tinggi. Ia adalah lautan ilmu, demikian tutur Habib Zein bin Abdullah al-Kaff, menantu Habib Husein. Kala menghadiri rauhah (majelis telaah kitab), Habib Husein selalu diminta memberikan fatwa-fatwa.

Dalam menguraikan permasalahan fikih, Habib Husein tak jarang meloncat-loncat dari satu mazhab ke mazhab lain. Itu adalah bukti keluasan fikihnya. Adapun dalam ranah tasawuf, setali tiga uang, sama-sam dalamnya. Ia bersama menantunya, Habib Zein al-Kaff, sering terlibat dalam pendirian madrasah-madrasah. Ya, hidupnya memang untuk ilmu.

Kedalaman ilmu Habib Husein diakui oleh para ulama sejamannya. Termasuk Habib Ali bin Husein al-Attas atau yang lebih kondang dipanggil Habib Ali Bungur. Pernah Habib Ali mengajak Habib Husein berdiskusi membahas kitab al-futuhat karya Syekhu Ibnu al-‘Arabi. Habib Husein diketahui sangat menguasai kitab ini. “Aku pernah dengar salaf melarang membaca kitab ini.” Ungkap Habi Ali menyimpan tanya. “Sebenarnya membaca diwan-diwan Imam al-Haddad sudah cukup. Sebab, diwan beliau adalah syarah karya Ibnu ‘Arabi itu.” Jelas Habib Husein.

Potret pribadi Habib Husein adalah ibarat padi, semakin berisi semakin rendah menunduk. Ilmu yang menumpuk tidaklah membuat sosok Habib Husein pongah. Sebaliknya, Ia semakin tawadhu’. Demikian pula saat ia meraih maqam wilayah (kewalian)-nya, ia tidak pernah sekalipun memperlihatkan karomah-karomahnya bahkan ia selalu berusaha menutup-nutupinya. Kisah di atas hanyalah secuil yang lolos dari pengamatannya.

Habib Husein berplunag ke rahmatullah pada hari Sabtu 8 Muharram 1382 Hijriyah di Gresik, di kediaman Habib Zein bin Abdullah al-Kaff. Dan sesuai wasiatnya, ia dikebumikan di kota Surabaya disebelah makan istrinya, Syarifah Shalihah binti Idrus bin Salim bin Syekh Abu Bakar. Perhelatan haulnya dibarengkan dengan haul menantunya, Habib Zein. Biasa dihelat tiap akhir tahun dikawasan jalan pertukangan, Surabaya. (Syamsul)

Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy Edisi Pebruari 2009