Pada suatu hari di satu majlis ilmu tampak terlihat sangat tenang karena materi yang dibahas adalah tentang ihwal surga dan neraka, mereka terlihat begitu terpukau oleh penjelasan sang ustadz. Tiba-tiba tampak seorang jama’ah mengangkat tangannya dan langsung bertanya, “ Ustadz, dari tadi banyak bercerita tentang surga dan neraka. Ada yang ingin saya tanyakan. Akan tetapi, tolong, ustadz jangan marah.”

“ Insya Allah, saya tidak akan marah,” jawab Ustadz itu dengan tersenyum.

“ Soalnya saya pernah bertanya masalah ini, tapi ustadznya malah marah kepada saya…”

“ Insya Allah, saya tidak akan marah,” kata Ustadz lagi mengulangi.

“ Dari tadi Ustadz menceritakan tentang surga dan neraka. Coba tolong sekarang buktikan kepada saya atau kami, surga itu ada atau tidak, Ustadz?”

Pertanyaan ini membuat jama’ah lainnya menjadi rebut, ada beberapa yang protes. Ustadz itu tetap tersenyum dan berusaha meredakan suasana agar tenang kembali.

“ Biarkan beliau bertanya. Apa sudah selesai pertanyaannya? Sedapat mungkin saya akan menjawab bapak, tetapi kalau tidak dapat atau bapak belum puas terhadap jawaban saya maka saya akan minta waktu untuk bertanya lagi kepada orang yang lebih pandai. Saya akan belajar kembali dan membaca buku lebih banyak lagi. Tapi, saya ingin tahu jawaban dari ustadz lainnya agar jawaban saya tidak sama dengan jawaban ustadz sebelumnya.”

“ Begini Ustadz, saya pernah bertanya tentang pertanyaan itu. Tapi, ustadz itu menjawabnya dengan emosi dan malah mengatakan jika bapak ingin tahu surga dan neraka itu ada atau tidak, bapak harus mati dulu. Nah Ustadz, saya tidak ingin jawaban seperti itu, saya ingin jawaban yang dapat dicerna oleh akal pikiran saya.”

“ Insya Allah saya tidak akan menjawab seperti itu. Cuma izinkan saya juga bertanya kepada bapak. Dan mohon maaf, bapak juga jangan marah kalau saya akan bertanya sesuatu.”

“ Saya janji ustadz, tidak akan marah.”

“ Baik kalau begitu. Sebelum saya menjawab, satu pertanyaan dari saya. Saat ini bapak masih hidup atau sudah mati?”

“ Jelas saya masih hidup.”

“ Apakah Bapak yakin kalau bapak masih hidup?”

“ Yakinlah Ustadz, kalau saya ini masih hidup.”

“ Kalau memang benar yakin masih hidup, apakah bapak bias membuktikannya?”

“ Bisa. Saya dapat membuktikannya lewat jasad/tubuh saya. Saya dapat menggerakan tubuh saya, berbicara, menatap ustadz yang saat ini ada didepan saya. Itu semua juga karena adanya ruh.”

“ Apakah bapak benar-benar yakin kalau masih mempunyai ruh?”

“ Yakin.”

“ Jika bapak benar yakin, bisakah bapak tunjukan kepada saya dimana ruh bapak itu?”

“ Ya… yang pasti ada dalam tubuh saya.”

“ Bisa bapak ceritakan bagaimana bentuknya?”

“ Tidak bisa. Yang penting ruh itu ada.”

“ Bapak yakin kalau ruh itu ada.”

“Yakin.”

“ Bapak pernah melihatnya?”

“ Belum pernah.”

“ Kalau begitu, bapak perrcaya bahwa malaikat dan setan itu ada?”

“ Percaya.”

“ Bapak juga pernah bertemu atau melihat malaikat dan setan?”

“ Tidak pernah.”

“ Bapak percaya dengan adanya Allah?”

“ Percaya.”

“ Pernah melihat?”

“ Tidak.”

“ Bapak, semua yang bapak yakini itu adalah masalah ghaib. Ini kaitannya dengan masalah kepercayaan, keimanan. Bapak mengetahuai adanya ruh, setan, malaikat dan bahkan Allah SWT karena Allah SWT memberitahukannya kepada kita melalui Al-Quran dan juga Rasulullah SAW.
Begitu juga dengan masalah yang bapak tanyakan tentang surga dan neraka. Tidak ada yang pernah melihatnya kecuali Rasulullah SAW pada saat Isra dan Mi’raj. Ini adalah masalah iman. Percaya atau tidak.
Orang-orang yang Berjaya bukan orang yang shalat, zakat haji dulu akan tetapi orang yang beriman dengan yang ghaib. Termasuk masuk surga. Makanya kembali lagi ke rukun iman.”

“ Ya Allah… inilah jawaban yang saya inginkan, Ustadz…”

( Diambil dari Majalah Al-Kisah No.4 tahun VII edisi 23 Pebruari – 4 Maret 2009)